Nasihat

  nasehat lain...
Blog ini milik Arif Rahman Hakim, seorang pria berputra 8 (delapan) yang juga anggota legislatif dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Blog ini berisi berbagai hal yang ingin saya ungkapkan, tentang pikiran saya, keluarga, teman-teman, pekerjaan dan kiprah PKS di seluruh dunia, namun tentu saja terutama di Yogyakarta.
Kepada semua pengunjung blog ini saya harap dapat terbantu dengan artikel-artikel yang saya muat.
silahkan memberi komentar jika perlu.

Tifatul: Pemilu 2009 Paling Buruk



JAKARTA—Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memang tidak hadir dalam pertemuan sejumlah tokoh dan partai politik di rumah Megawati Soekarnoputri. Namun pandangan PKS terhadap penyelenggaraan Pemilu 2009 ternyata senada dengan pandangan para tokoh dan parpol yang berkumpul di Jalan Teuku Umar tersebut.



“Parah sekali, saya sepakat jika pemilu kali ini dikatakan paling buruk sepanjang sejarah republik,” ujar Presiden PKS, Tifatul Sembiring, kepada Republika, Selasa (14/4).

Dia menjelaskan, indikasi paling nyata keburukan Pemilu 2009 adalah carut-marutnya masalah penyusunan Daftar Pemilih Tetap (DPT). Ketidakberesan KPU dalam menyusun DPT mengakibatkan tingginya angka golongan putih atau warga negara yang tidak menyalurkan hak pilihnya.“Mereka bukan sengaja tidak memilih, tapi karena tidak bisa memilih karena tidak terdata dalam DPT.”

Padahal, Tifatul melanjutkan, PKS sudah jauh-jauh hari mengingatkan KPU untuk benar-benar fokus dalam hal penyusunan DPT. “Sudah kita ingatkan sejak masih DPS (Daftar Pemilih Sementara, red), tapi nampaknya tidak ditanggapi dengan baik.”

Kecuali DPT, sosialisasi KPU kepada para penyelenggara pemilihan di tingkat bawah juga terbilang gagal. Buktinya, kata Tifatul, banyak panitia pemilihan di TPS yang tidak mengisi formulir-formulir yang disediakan dan langsung memasukkannya ke dalam kotak suara.“Ini jelas mempengaruhi perolehan suara partai. Besar atau tidak, menentukan hasil atau tidak, memang perkara lain, tapi harusnya bisa lebih baik,” papar Tifatul.

Namun demikian, Tifatul melanjutkan, PKS belum berpikir untuk mengambil langkah hukum terhadap kesemerawutan DPT dan lebih berharap KPU bisa meningkatkan kinerjanya.“PKS ingin ke depan lebih baik, bukan saja demi pilpres besok, tapi untuk pilkada dan pemilu-pemilu selanjutnya,” tandas Tifatul. ade/kpo

Baca Selanjutnya......

PKS BANTUL KEHILANGAN 10.000 SUARA TIDAK MASUK DPT



Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Bantul mengaku kehilangan 10.000 lebih suara konstituennya pada pemilu legislatif 9 April lalu.



Hal itu terjadi karena mereka dipaksa tidak memilih akibat tidak masuk Daftar Pemilih Tetap (DPT).
"Sebanyak 10.000 lebih konstituen kami tidak dapat menggunakan hak pilih akibat tidak masuk dalam DPT. Padahal dalam DPS mereka masuk, tapi kemudian menghilang pada DPT. Angka itu setara dengan nilai satu kursi di DPRD Bantul," kata Ketua DPD PKS Kabupaten Bantul Arif Haryanto di kantornya, Senin (13/4).
Menurut Arif, temuan PKS adanya konstituen yang tidak masuk dalam DPT telah dilaporkan kepada KPUD Bantul. Namun demikian tidak mendapat respon yang baik hingga saat pemilu legislatif berlangsung warga yang tidak masuk dalam DPT tidak dapat menggunakan hak pilihnya.
Arif menjelaskan, selain soal DPT, pihaknya juga menyayangkan sikap tidak profesional yang ditunjukan beberapa PPS, misalnya soal lembar C1. Banyak saksi tidak mendapatkan C1 karena alasan petugas PPS capai atau sudah larut malam. Bahkan ada PPS yang tidak mau memberikan salinan C1 dengan alasan bukan hak saksi menerimanya.
Agus Effendi, Ketua Bidang Hubungan Media menambakan, hal serupa terjadi di PPK Kasihan. Di sana ada kejanggalan hasil C1 antara saksi dan PPK. Awalnya PPK enggan membuka kotak untuk menyocokkan data dengan C2. Setelah PPK mau membuka ternyata ada C1 yang hilang dari kotak suara.
"Ternyata lembar C1 sudah ditemukan tertempel di depan beberapa saat kemudian. Saya kira ada beberapa pihak yang bermain. Tapi saya tidak bisa memastikan siapa atau pihak mana yang bermain," katanya.
Agus Sumartono, Ketua Biang Kewilayahan menambahkan, hasil pemilu legislatif 2009 dinilai cacat karena tidak adanya transparansi. Pihaknya juga menyayangkan adanya anggota Panwascam yang ikut telibat dalam proses rekapitulasi hasil suara. Seharusnya anggota Panwascam hanya mengawasi karena rekap data bukan tanggung jaawab mereka.
"Itu di luar tugasnya. Seharusnya mereka hanya mengawasi. Parahnya lagi, selain membantu merekap, ternyata mereka juga salah memasukkan data dari hanya satu misalnya menjadi 61. Itu kan enggak benar," jelasnya.
Ketua Panwaslu Bantul Tentrem Widodo membenarkan adanya anggota Panwascam yeng membantu dalam proses rekap suara. Namun Tentrem mengatakan hal itu semata-mata dilakukan karena toleransi. Di samping itu, anggota Panwascam sama sekali tidak mempengaruhi hasil rekap suara yang ada.
"Memang di beberapa daerah ada anggota Panwascam yang membantu PPK. Itu karena mereka kasihan saja, PPK-nya kecapaian. Jadi mereka berinisiatif membantu. Itu pun tidak merubah apa-apa. Toh hal itu dilakukan kalau PPK-nya open, kalau tidak berkenan ya tidak," katanya.
Tentrem menjelaskan, anggota Panwascam memang diperbolehkan membantu PPK dengan catatan tidak merubah data apa pun yang dihasilkan. (c6)

Bernas, Bantul, Selasa, 14 Apr 2009 11:47:28

Baca Selanjutnya......

Cerita (dan derita) caleg gagal 2



Jual Sawah dan Mobil,Gagal Raih Kursi DPRD

Hasil sementara Pemilu Legislatif yang digelar pekan menyesakkan dada beberapa calon incumbentDPRD DIY yang tersingkir.Dukungan suara yang diharapkan datang,ternyata tak sesuai harapan. Bagaimana kisah sedih mereka?



Koran SINDO Tuesday, 14 April 2009
TIKET menjadi wakil rakyat ternyata sangat mahal.Tak sedikit calon legislatif (caleg) yang merasa dibohongi pemilih.Meskipun jumlah penghitungan secara resmi belum diketahui secara pasti,namun para caleg incumbent yang sudah bekerja dan berjuang keras untuk mendapatkan dukungan rakyat mengaku telah bisa memprediksi kekalahan yang bakal mereka terima.

Mereka mengaku hanya bisa pasrah dengan hasil yang dicapai, meski tak sesuai dengan harapan. Seperti yang cerita ‘sedih’ caleg incumbentDPRD DIY dari PDIP TernalemPA yangjadisalahsatukorban Pemilu 2009. Dia mengaku tidak beruntung meski telah bekerjakeras membina sejumlah desa di Gunungkidul.

“ Saya terus terang masih puyeng. Tetapi saya masih bisa tersenyum. Desa binaan saya habis hanya karena uang Rp50.000-an,”akunya. Anggota legislatif DPRD DIY ini kemudian mencoba menceritakan suka dukanya untuk mendapatkan dukungan dan amanat rakyat.

Usai menjalankan aktivitas sebagai anggota Dewan dirinya mengaku tidak langsung pulang. Akan tetapi terus menyatu dengan warga Gunungkidul di hampir separuh kecamatan di Gunungkidul.

“Saya itu sampai rumah sudah malam. Rata-rata di atas jam sebelas,” tuturnya. Namun,usah keras yang dilakukannya justru berbuah sebaliknya. Pilihan rakyat masih belum tertuju kepadanya.

“Wah ternyata pilihan rakyat adalah uang,” gerutu pria yang lahir di tanah Batak ini. Dia mencoba mendekati para kader militan PDIP yang menjadi kendaraan politiknya.Namun yang membuat dirinya sangat kecewa adalah tiga TPS yang sudah lama dibinanya, ternyata hanya menelurkan tiga suara untuknya. Belum lagi para kader tim suksesnya yang justru malah tidak memilihnya.

“Ya… Mobil saya sudah bablas, tanah juga sudah saya jual.Dulu tidak punya mobil sekarang juga tidak punya mobil,”ceritanya sambil mencoba tetap tersenyum. Hal yang sama juga dialami oleh Basuki Rahmad.Kader Partai Amanat Nasional (PAN) yang juga masih duduk di DPRD DIY ini mengaku harus mengeluarkan uang Rp4 juta hanya untuk mendapatkan 49 suara.

Dana sebesar itu digunakan untuk membantu pengadaan alat musik rebana salah satu dusun di Sleman. Sambil memeragakan rebana bantuan senilai Rp4 juta itu, dia menyayikan 49 suara yang diperolehnya.“ Breng,breng,brengempat juta…breng-breng, breng 49 suara,” tirunya sambil tertawa-tawa.

Sungguh kisah-kisah lucu itu keluar dengan alaminya dari mulut para calon anggota legislatif di Yogyakarta. Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) TakdirAli Mukti yang memilih tak mencalonkan diri lagi sebagai wakil rakyat berpendapat,munculnya fenomena money politicsdalam pemilu saat ini yang terjadi secara massive membuktikan jika rakyat masih mempunyai bakat menjadi koruptor.

Takdir yang saat ini masih aktif di Komisi A DPRD DIY ini mencontohkan seorang caleg kabupaten harus mengeluarkan uang Rp600 juta untuk transaksi suara ini. Setelah penghitungan suara, baru terungkap minimnya suara yang diharapkan.Hal ini membuat banyak caleg yang sangat shock melihat perolehan suara yang jeblok. “Rata-rata mereka mengaku ditipu oleh rakyatnya,” paparnya.

Hal ini menjadi berbalik dari kondisi sebelumnya dimana yang terdengar adalah legislatif yang menipu rakyatnya.“Ini juga membuktikan masyarakat kita sudah tidak lagi mempunyai ideologi dalam pilihan partainya. Masyarakat sudah benar-benar fullpragmatis,” tegasnya. (suharjono/bersambung)


Baca Selanjutnya......

Mengapa Orang Korup?



Mengapa orang Islam masih korupsi? Sementara agamanya melarang? Ini berasal dari pertanyaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat memberi sambutan pada suatu acara keagamaan. Presiden tidak menyebut penganut agama lain, mungkin karena penganut Islam mayoritas sehingga ketika mereka korup dampaknya amat luas.




Perbuatan tercela itu tergolong tindak pidana yang dilarang hukum positif kita, sementara hukum syariah melarangnya pula karena ia termasuk perbuatan munkar, yaitu berbuatan terlarang dengan sanksi dosa. Berbagai jawaban atas pertanyaan itu dapat dikemukakan tergantung pada pendekatan yang digunakan.

Mengapa Korup?

Manusia, adalah makhluk paling baik bentuknya (QS 95:4) dan Sang Pencipta melengkapinya dengan pelbagai dorongan (keinginan) untuk mendukung kehidupannya. Salah satu dorongan yang relevan dengan tulisan ini adalah dorongan/keinginan memiliki dan lebih khusus lagi dorongan memiliki harta (QS 3:14). Dengan memiliki harta orang selain dapat memenuhi kebutuhan fisik diri dan keluarganya, juga dapat melaksanakan berbagai ibadah yang berkaitan dengan harta (ibadah maliyah) seperti infak, zakat, naik haji dan sebagainya.

Orang tergoda melakukan korupsi guna memenuhi dorongan untuk memiliki harta sebanyak mungkin, suatu dorongan yang sulit terpuaskan karena “manusia bila memiliki satu lembah emas ia ingin lembah kedua”.

Di sisi lain, lingkungan yang semakin materialistik-hedonis dan iman yang melemah, mendorong pula orang menempuh jalan pintas. Dari sudut pandang Islam, dorongan yang keliru itu dapat dicegah antara lain melalui peningkatan mutu salat dan penguatan iman.

Pencegahan Melalui Salat

”Dan tegakkanlah salat karena salat itu mencegah perbuatan keji (zinc) dan munkar” (QS 29:10). Dalam kategori munkar itu termasuklah perbuatan korupsi. Salat akan menghentikan perbuatan korupsi. Bahwa masih terjadi gap seperti dikemukakan di atas, kita seharusnya tidak mempersoalkan kebenaran firman Tuhan tetapi mempertanyakan kualitas salat, apa ia termasuk kategori rusak.

Dalam sebuah hadis disebutkan “Barang siapa yang salatnya tidak mencegahnya berbuat keji dan munkar, maka Tuhan akan jauh darinya”. Dalam kondisi seperti itu, “Salatnya: rusak” dan `tidak disebut salat lagi”, jelas Nabi. Sungguh merugilah orang itu karena ditegaskan Nabi lagi “Yang pertama kali dihisab dari seorang hamba Allah di akhirat adalah salat. Bila salatnya baik, baiklah pula semua amalannya, dan bila salatnya rusak, rusak pula segala amalannya”.

Tidakkah itu kerugian besar karena tak ada lagi “catatan positif” yang dibuat malaikat untuknya dalam menghadapi peradilan Tuhan. Di sisi lain, tidak ada lagi kesempatan memperbaiki salat yang rusak itu. Rugi kan? Maka mumpung masih hidup lakukanlah introspeksi agar tidak lagi terdapat salat yang rusak itu dengan lebih dulu melakukan tobat dalam arti sebenarnya, menyesali perbuatan yang salah itu dan berjanji dengan Tuhan untuk tidak mengulanginya lagi selama-lamanyanya.

Cegah dengan Penguatan Iman

Setidaknya terdapat dua aspek iman yang perlu diperhatikan dengan sungguh, sunguh. Pertama, rasa malu. Nabi menegaskan “malu itu bagian dari iman”. Seorang pensyarah hadits mengatakan, kelakuan orang yang kehilangan rasa malu ibarat kelakuan hewan memakan milik siapa saja. Berapa banyak penyelenggara negara yang hidup hanya dari gaji tetapi memiliki kekayaan yang jauh melebihi penghasilannya yang sah, sementara ia tidak merasa malu. Anehnya masyarakat tidak mempersoalkan perangai pelaku white collar crime itu. “Bila kamu tidak punya malu lagi buatlah apa saja yang kamu mau” demikian Nabi menyatakan ketidaksukaannya. Kedua, aspek penguatan iman terkait dengan hari akhirat. Agar terhindar dari neraka, selama di dunia orang harus melakukan perbuatan baik dan menghindari perbuatan munkar. Dalam keseharian kita menyebut amar maruf nahi munkar.

Melakukan perbuatan korupsi dan perbuatan munkar lainya mengindikasikan orang tidak beriman pada hari akhirat sebab beriman pada sesuatu tidak hanya dibenarkan oleh hati dan diikrarkan oleh lidah, tetapi lebih-lebih disertai perbuatan baik. Melakukan korupsi dan perbuatan terlarang lainnya pada hakikatya mengingkari hari berhisab itu. Perlu kiranya dicatat bahwa dalam waktu cukup lama setelah diangkat menjadi Rasul, dakwah Nabi Muhammad SAW hanyalah dua -iman pada Allah dan iman pada hari akhirat.

Penegakan Hukum

Sekiranya salat dan iman seseorang tak mangkus (efektif), mencegahnya melakukan perbuatan korupsi maka diperlukan intervensi negara melalui penegakan hukum. Artinya, yang bersangkutan dihadapkan ke depan pengadilan seperd difahami dari Hadis Nabi. “Siapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah ia ubah (hentikan) dengan tangannya, bila tak mampu maka dengan lidahnya, dan bila tak mampu juga), maka dengan hatinya, itu iman paling lemah.

Kata tangan dalam hadis ini bukan dalam arti denotasi atau hakiki (arti sebenarnya), jadi bukan secara fisik, tetapi dalam arti konotasi atau majazi (arti kiasan). Di sini maksudnya kekuasaan. Ketika digunakan arti hakiki, maka seseorang menjadi hakim sendiri dan ini bisa menimbulkan anarkisme.

Dalam sistem ketatanegaraan kita kekuasaan itu-dijalankan pemerintah dan dalam hal ini oleh kekuasaan kehakiman. Artinya sang koruptor harus diadili, sebagaimana dikehendaki Nabi. Beliau menyebutkan, umat terdahulu itu binasa karena bila yang mencuri orang tak berpangkat hukum diabaikan dan bila yang mencuri orang berpangkat hukum ditegakkan. “Demi Allah sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri akan aku potong tangannya”, ungkap Nabi SAW.

Jadi yang dituntut itu penegakan hukum yang berkeadilan, tidak tebang pilih, tidak pandang bulu. Sementara sang koruptor hendaknya menyadari bahwa hukum di dunia tidak membebaskannya dari hukum di akhirat. Oleh karena itu orang yang belum terkontaminasi oleh korupsi harus berpikir seribu kali sebelum melakukan perbuatan tercela dan terkutuk itu agar marwah tetap terjaga.

Oleh Yusuf Rahman
H Yusuf Rahman MA,
mantan Rektor IAIN Suska Pekanbaru, Riau.

Sumber: Riau Pos, Jum`at, 27 Maret 2009


Baca Selanjutnya......

Cerita (dan DERITA) para Caleg saat Pemilu



Dibawah ini saya petikkan dari suratkabar Radar Jogja, cerita-cerita (dan derita) para caleg saat kampanye Pemilu 2009 kemarin, sebagai pembelajaran bagi para caleg di tahun 2014 nanti agar tidak terperosok pada lubang yang sama.


[ Senin, 13 April 2009 ]
Para Caleg Bercerita tentang Perilaku Pemilih saat Pemilu
Sudah Banyak Dibantu, Malah Contreng Yang Lain

Sebelum pemilu, masyarakat gamang menjatuhkan pilihan karena jumlah caleg dan parpol peserta pemilu begitu banyak. Kini setelah pemilu usai, gantian caleg yang bingung. Kalkulasi perhitungan suara yang mereka perkirakan meleset. Gara-garanya cukup sederhana. Jumlah dukungan suara mereka jauh dari harapan alias jeblok.

KUSNO S UTOMO, Jogja

------------------------------------------------

''RAKYAT sekarang makin pandai. Termasuk lebih piawai ngapusi caleg,'' gerutu Daryanto Wibowo, caleg asal Partai Demokrat, belum lama ini.

Pria yang maju menjadi calon legislator DPRD DIJ dari daerah pemilihan Sleman itu menilai, masyarakat pemilih sekarang tidak gampang dipercaya. Meski sudah beberapa kali dibina, nyatanya suara yang dicontreng jauh dari potensi yang sebelumnya telah dihitung.

Pengalaman itu didasarkan beberapa pemantauan di sejumlah TPS. ''Tabungan saya terkuras untuk kampanye,'' cerita politikus yang berlatar belakang pengusaha ini.

Daryanto mengakui dibandingkan pemilu-pemilu sebelumnya, kualitas Pemilu 2009 terbilang paling buruk. Salah satu yang disorot Daryanto adalah maraknya politik uang. ''Semua sudah kasat mata. Jual beli suara sangat kentara. Siapa yang uangnya banyak, terbukti suaranya juga besar,'' keluhnya.

Terempas oleh politik uang juga dirasakan Ternalem. Anggota FPDIP DPRD DIJ yang kembali mengadu nasib menjadi wakil rakyat itu merasa dipecundangi politik uang yang marak menjelang pencoblosan. ''Perut saya rasanya mulas kalau mengingat kejadian itu,'' ujarnya saat curhat di depan Ketua DPW PAN DIJ Immawan Wahyudi dan Ketua DPD Partai Golkar DIJ Gandung Pardiman.

Ketiganya bertemu secara tak sengaja di lobi Gedung DPRD DIJ Sabtu (11/4) lalu. Ternalem pun lantas berbagi pengalaman. Ia bukan saja kebobolan suara di kandang binaanya. Tim sukses yang telah dibinanya selama berbulan-bulan ternyata lari mendukung caleg lain.

''Bagaimana mungkin, tim sukses saya di TPS di kampungnya malah mencontreng caleg lain. Kalau teringat itu mulas pula perut aku ini,'' tutur politikus asal Batak yang tinggal di Playen Gunungkidul ini.

Ternalem mencoba mengusut penyebab larinya para pendukungnya itu. Usut punya usut, beberapa jam menjelang pemungutan suara, ada ''serangan fajar''. Tim suksesnya termasuk yang kecipratan. Per orang mendapat Rp 50 ribu. ''Ya sudah, karena nggak punya duit, suara saya kalah dengan politik uang,'' katanya getir.

Padahal untuk menjadi caleg, Ternalem sudah menghabiskan dana tidak sedikit. Sebidang tanah dan mobil kijang super milknya telah amblas. Tak kurang, uang Rp 100 juta telah dikeluarkan selama kampanye. ''Dulu nggak punya mobil, sekarang nggak punya ya sudah biasa,'' kata wakil bendahara DPD PDIP DIJ itu mencoba menghibur diri.

Di tengah perbincangan berlangsung, seorang penjual minuman ringan melintas. Gandung kemudian memanggil dan membeli minuman yang dijual itu Rp 50 ribu. Setiap orang yang kebetulan lewat di lokasi diberi minuman yang dikemas dalam botol keci. ''Mari kita minum bareng agar perut kita nggak mual melihat hasil pemilu. Kalau mules ya mules bareng-bareng,'' kelakar Gandung.

Caleg asal PAN dari daerah pemilihan Kota Jogja Nazaruddin juga punya kisah lain. Anggota Dewan Provinsi yang dikenal vokal ini mengaku lemas melihat perolehan suara PAN di kota. ''Suara PAN rontok,'' ucapnya.

Melihat perolehan suara PAN, Nazar tak bisa berharap banyak. Ia psimistis partainya bisa meraih dua kursi. Sebab, PAN hanya punya peluang satu kursi. Saat ini suara yang dikumpulkan Nazar tertinggal dibandingkan koleganya Arif Noor Hartanto yang sekarang menjabat ketua Dewan Kota Jogja.

Awalnya Nazar berharap lumbung suaranya di Kauman dan Kotagede mampu mendongkrak perolehan suaranya. Tapi di dua lokasi itu, Nazar kalah dengan caleg lokal asal daerah itu. Selama ini, Nazar mengaku aktif terjun ke bawah. Ia juga membantu pengadaan seragam pengajian ibu-ibu di daerah tersebut. Sayang, upaya itu tak banyak menolong. Pemilih mencontreng caleg lain.

Kisah pahit soal melesetnya perhitungan jumlah pemilih dengan hasil pencontrengan juga dirasakan Basuki Rakhmat. Ketua Komisi B DPRD DIJ yang tinggal di Kalasan itu bercerita pernah membantu pengadaan alat musik rebana seharga Rp 4 juta. Harapannya, ia mendapatkan limpahan dukungan 400 orang. Alhasil saat pemungutan suara hanya ada 49 orang yang memilih namanya. ''Masih banyak cerita-cerita ganjil lainnya. Itu baru satu cerita,'' ujarnya sambil melepas senyum.

Fenomena politik uang yang terasa masif sudah dirasakan Wakil Ketua FPAN DPRD DIJ Takdir Ali Mukti. Gelagat itu membuktikan rakyat sebagai pemilih dalam pemilu mayoritas punya bakat menjadi koruptor.

Ia juga mendapatkan informasi, seorang caleg untuk DPRD kabupaten bisa menghabiskan anggaran Rp 600 juta sekadar untuk transaksi suara. ''Ini sudah edan-edanan,'' ungkap Takdir yang memilih tahun ini tidak maju menjadi caleg itu. ***

Baca Selanjutnya......

Siang Malam Kader PKS Siaga Kawal Suara



Wajah letih, badan berkeringat, pakain lusuh tak bisa dilepaskan dri penampilan para relawan.






PK-Sejahtera Online: Perhitungan suara hasil Pemilu Legislatif 9 April 2009 masih terus berjalan. Hal ini tentu saja banyak menyita waktu dan tenaga para pengurus partai politik. Demikian juga dengan para kader PKS Surabaya, mereka rela berkutat dengan angka siang dan malam untuk merekap hasil perhitungan suara dari tiap TPS di seluruh Surabaya.

Tujuanya tak lain adalah untuk memperoleh hasil data yang akurat yang akan dijadikan pedoman untuk dilakukan pencocokan dengan hasil perhitungan suara di tingkat PPK.

Wajah letih, badan berkeringat, pakain lusuh tak bisa dilepaskan dri penampilan para relawan. Namun keikhlasan sebagai bagian ladang amal dan perjuangan dakwah yang tetap membuat mereka bersemangat dan penuh keceriaan.

Di Jakarta Selatan para kader secara bergantian mengawal perhitungan suara di panitia penghitungan suara tingkat kecamatan. Mereka mengamati jalannya penghitungan suara mulai PPK dibuka pukul 09.00 sampai penghitungan di tutup pada jam 23.00. Setiap hari ada 6-10 kader yang berjaga secara bergantian.

Menurut Ketua DPD PKS Jakarta Selatan Drs. Khoiruddin M.Si., dirinya mengintruksikan struktur PKS hingga tingkat ranting untuk mengawal suara. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pengurangan suara PKS.

"Kita tidak ingin kejadian 2004 terulang lagi, dimana suara PKS banyak yang raib, akibat dicurangi,"cetusnya.


Baca Selanjutnya......

Caleg Mulai Stress



Beberapa hari pasca pemilu, mulai banyak caleg yang menunjukkan tanda-tanda kelainan dari hari sebelumnya.

Ada rekan saya yang sebelum pemilu, tanggal 5 April 2009 begitu yakin bahwa dia akan memenangkan persaingan di parpolnya, dia sangat optimis akan meraih 17.000 suara personal yang akan memilih dia, dengan berbagai hitungan akurat yang dia paparkan, dan sangat yakin bahwa mesin partainya akan berjalan memperjuangkan dia....
setelah pemilu berlangsung...caleg tersebut hanya mendapatkan suara tidak kurang dari seribu saja....dia merasa tertipu dengan mesin politiknya, namun dia tidak stress dalam hal ini karena masih punya usaha yang sangat prospek, walau tidak jadi anggota dewan.
kisah teman saya yang lain, hari sabtu tgl 11 April 2009, ketika sudah memiliki gambaran bagaimana perolehan parpolnya, tampak berwajah kuyu dan pucat, ketika di tanya kenapa, dia mengaku perutnya mules sejak kemarin...terutama sejak melihat hasil pemilu yang jauh dari perkiraannya semula.
kisah lain lagi saya alamai hari ini, saat rekan saya satu Komisi, yang sudah mengaku membina masyarakat di Gunungkidul tampak asyik menghisap rokok dalam-dalam, padahal dia bukan orang yang biasa merokok, cara memegang rokoknya pun sangat kaku dan janggal, ketika saya tanya....dia memang kalah suara dalam pemilu ini, desa yang dia bina sejak lama hanya memberinya 15 suara saat pemilu....
nasib...oh nasib....

Baca Selanjutnya......
 

blogger templates | Make Money Online